Kuil Karnak dikenal sebagai Ipet-isut atau tempat sangat khusus oleh orang Mesir kuno. Ini merupakan kota candi yang dibangun lebih dari 2000 tahun dan didedikasikan untuk Theben tiga serangkai Amun, Mut dan Khonsu.
Tempat ini terlantar tetapi masih mampu membayangi banyak keajaiban dunia modern. Untuk sebagian besar penduduk berpendidikan Mesir kuno, bisa menjadi tempat para dewa. Ini adalah ibu dari semua bangunan keagamaan, yang terbesar yang pernah dibuat dan tempat ziarah selama hampir 4.000 tahun. Ini mencakup sekitar 200 hektar dan Wilayah kandang suci Amon sendiri adalah 61 hektar dan terus ke cathedrals. Aula Hypostyle 54.000 kaki persegi dengan 134 kolom yang masih merupakan ruang terbesar dari setiap bangunan keagamaan di dunia. Selain tempat utama terdapat beberapa kuil kecil dan sebuah danau besar suci.
Pintu Batu
Tim arkeolog di Mesir menemukan potongan tembok kuno berbentuk pintu dari sebuah bangunan makam seorang pejabat tinggi. Bagi rakyat Mesir kuno, motif pintu itu dibuat untuk membantu arwah yang bersangkutan menuju kehidupan setelah mati.
Pintu-pintu serupa ditemukan di hampir semua kuburan Mesir kuno dengan tujuan untuk mengantarkan jiwa orang yang telah wafat ke kehidupan setelah mati, atau sebaliknya membawa jiwa tersebut kembali ke dunia.
Pintu yang baru ditemukan tersebut memiliki tinggi sekitar 1,75 meter dan terbuat dari lempengan granit merah muda yang diukir dengan teks-teks religius. Pintu itu ditemukan di makam pejabat bernama User, seorang penasehat Ratu Hatshepsut, yang sangat berkuasa dan memerintah pada abad 15 Sebelum Masehi (SM). Makam ratu dari Kerajaan Baru tersebut berada di kuil terkenal di dekat Luxor.
User menduduki posisi penasehat selama 20 tahun. Dia juga memperoleh gelar pangeran dan menjabat sebagai walikota Luxor. Kemungkinan besar User mewarisi jabatan tersebut dari ayahnya. Jabatan penasehat sangat penting pada masa itu karena dia yang bertanggung jawab atas birokrasi kerajaan.
Hal lain yang menggarisbawahi pentingnya posisi tersebut adalah makam User yang terletak di tepi barat Sungai Nil di Luxor di mana raja dan ratu kerajaan juga dimakamkan. Sebuah kapel yang didedikasikan untuk User juga ditemukan di pebukitan di wilayah selatan dekat Aswan.
Pintu batu tersebut berada jauh dari makamnya dan kemungkinan telah dipindahkan dari makam, lalu disatukan ke dinding pada bangunan era Romawi lebih dari seribu tahun kemudian.
Pintu lain ditempatkan di dinding barat makam dengan menghadap meja persembahan di mana makanan dan minuman diletakkan bagi jiwa orang yang meninggal.
Sejarah
Banyak dari peninggalan di temple ini yang sudah
terkelupas, dan ternyata hal ini bukan karena pengaruh alam. Ada sebab yang mengakibatkan tulisan dan gambar itu mulai rusak.
Kejadiannya berawal saat kekuasaan Mesir mulai melemah di mata dunia kala itu, Roma menggunakan kesempatan ini untuk menyerang Mesir. Mesir porak-poranda atas serangan Roma. Sebagaimana layaknya sebuah negara adidaya yang menjajah negara lain, kebudayaan setempat akan dihancurkan dan mengganti kebudayaan baru dari sang penjajah.
Di dalam temple terdapat banyak patung yang kepalanya dipenggal oleh para tentara Roma, bahkan di tempat mihrab, gambar-gambar dan tulisan heroglyph di kerok dan ditutup dengan gambar-gambar model Yunani kuno dengan simbol-simbol kristen yang sangat melekat, di mihrab tempat paling sucipun terdapat gambar almasih yang saat ini sudah terlihat pudar dan mulai terlihat menyatu dengan gambar-gambar dewa Mesir kuno. Di tempat ini juga ada bekas dua kaki kuda yang menandakan penodaan yang dilakukan oleh orang Roma terhadap tempat suci Luxor.
Temple ini dulunya sudah tertutup terkubur di dalam tanah pada masa-masa kejayaan Islam. Saat Islam masuk ke Mesir yang dibawa oleh salah satu sahabat nabi bernama Amr bin Ash, Luxor menjadi salah satu wilayah kekuasaan Islam. Hingga akhirnya pada masa kekuasaan khilafah Bani Abbasiyah yang berpusat di Baghdad Irak, tempat tepat di atas Luxor Temple dibangun sebuah masjid megah, saat itu mereka belum tahu kalau dibawah tanah tempat mereka membangun masjid adalah tempat suci peninggalan para fir’aun, tempat ini baru diketahui beberapa tahun lalu.
kenapa semua peninggalan-peninggalan bersejarah ini mampu bertahan hingga ribuan tahun. Para fir’aun itu hidup ditahun 3000an sebelum masehi, Amenhotep hidup pada masa nabi Yusuf, Ramsis II hidup pada masa nabi Musa, tetapi peninggalan bangunan mereka masih kokoh berdiri hingga kini, ternyata jawaban terletak pada karena bahan bangunan yang mereka gunakan adalah batu granit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar